

KAPUAS HULU- KALIMANTAN BARAT
Bentarum
Lanskap Bentarum di Kapuas Hulu mencakup hutan yang lebat, sungai yang berkelok, dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Di bagian utara terdapat kawasan perbukitan dan pegunungan Taman Nasional Betung Kerihun. Di bagian selatan terdapat Taman Nasional Danau Sentarum, yang terkenal dengan ekosistem danau musiman yang unik.
Area di antara kedua taman nasional ini telah lama dikenal sebagai koridor penghubung antara Danau Sentarum dan Betung Kerihun. Dikenal sebagai Bentarum, atau terkadang Labian-Laboyan, wilayah ini mencakup 326.862 hektare dan menjadi rumah bagi lebih dari 14.000 penduduk, yang sebagian besar adalah masyarakat adat Dayak Iban dan Dayak Tamanbaloh.
TANTANGAN & BIODIVERSITAS
Tantangan Konservasi di Bentarum
-
Masyarakat adat di Bentarum tidak memiliki hak pengelolaan formal atas hutan mereka, sehingga rentan terhadap pihak eksternal dan membatasi kemampuan mereka untuk mengelola kawasan hutan sesuai dengan adat setempat.
-
Sistem tata guna lahan di Indonesia yang kompleks menciptakan mozaik kawasan hutan yang terfragmentasi, di mana kawasan lindung, konsesi, permukiman, lahan pertanian, dan hutan tidak terlindungi berada berdampingan. Fragmentasi ini menyulitkan pengelolaan lanskap yang terkoordinasi dan efektif.
-
Sebanyak 66.470 hektare wilayah Bentarum dialokasikan sebagai Area Penggunaan Lain (APL), kategori lahan yang memungkinkan pembukaan perkebunan kelapa sawit. Konsesi-konsesi ini memecah hutan di sepanjang sabuk tengah Bentarum.
-
Konsesi kredit karbon mulai berkembang di seluruh 260.391 hektare kawasan Hutan Negara di Bentarum. Meskipun merupakan strategi konservasi, beberapa di antaranya beroperasi tanpa persetujuan masyarakat.
-
Sebuah jalan utama membentang dari timur ke barat melalui Bentarum, yang semakin memisahkan lanskap yang sebelumnya terhubung menjadi dua blok hutan, utara dan selatan.
-
Alih fungsi hutan untuk pertanian skala kecil terus terjadi, diperparah oleh rendahnya produktivitas, kesehatan tanah yang buruk, kerugian panen akibat satwa liar, serta meningkatnya kerentanan terhadap banjir.
-
Perburuan satwa liar masih meluas, didorong oleh faktor budaya, kebutuhan subsisten, dan sebagai respons terhadap kerusakan tanaman. Keterbatasan ketahanan pangan dan meningkatnya interaksi negatif dengan satwa liar turut memengaruhi tingkat perburuan.
Biodiversitas Kunci

Lutung tiga warna yang berstatus Kritis (Presbytis chrysomelas cruciger)

Orangutan Kalimantan berstatus Kritis (Pongo pygmaeus)

Owa Abbott berstatus Terancam (Hylobates abbotti)

Kucing kepala datar berstatus Terancam (Prionailurus planiceps)
